Siapa sih yang nggak kenal Christopher Nolan? Sutradara satu ini memang jagonya bikin otak kita berputar sekaligus hati terenyuh. Salah satu mahakaryanya yang masih sering di omongin sampai sekarang adalah Film Interstellar. Film yang rilis tahun 2014 ini bukan sekadar film fiksi ilmiah biasa tentang luar angkasa. Ini adalah surat cinta tentang harapan, pengorbanan, dan hubungan antara ayah dan anak yang melampaui dimensi ruang dan waktu.
Kalau kamu lagi cari tontonan yang visualnya gila-gilaan tapi punya cerita yang dalam banget, Film Interstellar adalah jawabannya. Mari kita bedah pelan-pelan gimana misi nekat seorang pilot bernama Cooper ini berusaha mencari “rumah baru” buat kita semua.
Bumi yang Sedang Menuju Kehancuran
Cerita di mulai di masa depan yang nggak terlalu jauh, tapi suasananya suram banget. Bumi nggak lagi ramah. Ada wabah penyakit tanaman yang di sebut “Blight” yang bikin hampir semua jenis tumbuhan mati. Oksigen makin menipis, badai debu terjadi hampir setiap hari, dan umat manusia dipaksa kembali menjadi petani hanya untuk sekadar bertahan hidup. Teknologi canggih dianggap nggak berguna lagi; fokus semua orang cuma satu: makan.
Di tengah situasi ini, kita bertemu dengan Joseph Cooper, seorang mantan pilot NASA yang kini jadi petani jagung. Cooper tinggal bersama mertuanya, Donald, dan kedua anaknya, Tom dan Murph. Cooper ini tipe orang yang percaya kalau manusia itu di takdirkan jadi penjelajah, bukan sekadar penjaga lahan.
Konflik emosional dimulai ketika Murph, anak perempuannya yang cerdas, merasa ada “hantu” di kamarnya yang mencoba berkomunikasi lewat buku-buku yang jatuh dari rak. Awalnya Cooper nggak percaya, tapi setelah sebuah badai debu besar, mereka menemukan pola aneh di lantai kamar Murph. Pola itu ternyata adalah koordinat geografis dalam bentuk kode biner.
Penemuan Markas Rahasia NASA
Rasa penasaran membawa Cooper dan Murph ke lokasi koordinat tersebut. Ternyata, di sana berdiri fasilitas rahasia NASA yang masih aktif di bawah pimpinan Profesor Brand. Di sinilah Cooper baru tahu kalau kondisi Bumi jauh lebih buruk dari yang di beritakan. Manusia sedang menuju kepunahan massal dalam satu generasi ke depan.
NASA punya rencana gila. Bertahun-tahun sebelumnya, sebuah lubang cacing (wormhole) muncul secara misterius di dekat Saturnus. Profesor Brand yakin ada “Entitas” (di sebut sebagai Them) yang menempatkan lubang itu di sana untuk membantu manusia berpindah ke galaksi lain yang punya planet layak huni.
Ada dua rencana besar:
-
Plan A: Memindahkan seluruh penduduk Bumi ke luar angkasa menggunakan stasiun rahasia (tapi mereka harus memecahkan persamaan gravitasi dulu).
-
Plan B: Mengirimkan ribuan embrio beku untuk memulai koloni baru di planet lain, membiarkan orang-orang di Bumi mati.
Karena Cooper adalah pilot terbaik yang pernah mereka punya, dia diminta memimpin misi Endurance. Tujuannya adalah mengecek tiga planet potensial yang sebelumnya sudah di kunjungi oleh tim pionir (Misi Lazarus).
Perpisahan Paling Menyesakkan Dada
Momen paling ikonik dan bikin nyesek di Film Interstellar ini adalah saat Cooper pamit pada Murph. Murph marah besar karena ayahnya pergi tanpa tahu kapan akan kembali, atau apakah dia akan kembali. Cooper memberikan jam tangan kepada Murph dan berjanji akan menyamakan waktu mereka saat dia pulang nanti.
Perpisahan ini berat banget karena adanya teori relativitas. Karena Cooper akan pergi ke dekat lubang hitam yang masif, waktu bagi Cooper akan berjalan jauh lebih lambat di banding waktu di Bumi. Satu jam bagi Cooper bisa berarti bertahun-tahun bagi Murph. Cooper berangkat membawa beban berat, meninggalkan anak-anaknya demi masa depan mereka yang belum pasti.
Menembus Lubang Cacing dan Keajaiban Visual
Perjalanan menuju Saturnus memakan waktu dua tahun. Cooper di temani oleh tim ahli: Dr. Amelia Brand (anak Profesor Brand), fisikawan Romilly, geograf Doyle, serta dua robot ikonik bernama TARS dan CASE. TARS ini adalah salah satu elemen terbaik di film ini; robot dengan selera humor yang bisa di atur tingkatannya, tapi sangat loyal.
Visual saat mereka melewati wormhole benar-benar memanjakan mata. Christopher Nolan bekerja sama dengan fisikawan peraih Nobel, Kip Thorne, untuk memastikan penggambaran lubang cacing dan lubang hitam (black hole) seakurat mungkin secara sains. Hasilnya? Kita di suguhi pemandangan luar angkasa yang megah sekaligus mengerikan.
Planet Miller: Satu Jam untuk Tujuh Tahun
Planet pertama yang mereka kunjungi adalah Planet Miller. Dalam planet ini tertutup air dan mengorbit sangat dekat dengan Gargantua, sebuah lubang hitam raksasa. Karena gravitasi Gargantua yang ekstrem, terjadi di latasi waktu yang gila. Satu jam di planet ini sama dengan tujuh tahun di Bumi.
Misi di sini berubah jadi bencana. Mereka terjebak oleh ombak setinggi gunung karena gaya gravitasi lubang hitam. Doyle tewas, dan saat Cooper serta Amelia berhasil kembali ke kapal induk Endurance, mereka mendapati Romilly sudah menua. Cooper pun harus menghadapi kenyataan pahit saat menonton pesan video dari Bumi: anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Tom sudah punya keluarga, dan Murph sekarang seumuran dengan Cooper saat dia pergi. Akting Matthew McConaughey di adegan ini bener-bener juara—kamu pasti ikut nangis liatnya.
Pengkhianatan di Planet Mann
Dalam film Film Interstellar, Kecewa dan terdesak bahan bakar, tim harus memilih antara dua planet tersisa: Planet milik Dr. Mann atau Planet milik Dr. Edmunds. Karena alasan pribadi (Amelia mencintai Edmunds), Cooper memilih planet Dr. Mann yang terlihat lebih menjanjikan secara data.
Namun, kejutan pahit menanti. Dr. Mann, yang di anggap pahlawan paling berani, ternyata memalsukan data karena dia nggak kuat kesepian dan takut mati sendirian di planet es yang sebenarnya tidak bisa di huni itu. Dia mencoba membunuh Cooper dan mencuri kapal Endurance. Di saat yang sama, di Bumi, Murph yang sudah jadi ilmuwan besar menemukan fakta mengerikan: Profesor Brand sudah lama tahu kalau Plan A (menyelamatkan orang Bumi) adalah bohong karena dia gagal memecahkan rumus gravitasi tanpa data dari dalam lubang hitam.
Baca Juga:
Rekomendasi Film Berdurasi Panjang yang Tetap Seru dari Awal Sampai Akhir
Terjun ke Dalam Gargantua: Dimensi Kelima
Dalam upaya nekat untuk menyelamatkan misi dan memberikan energi tambahan bagi Amelia untuk mencapai planet terakhir, Cooper memutuskan untuk mengorbankan dirinya. Dia terjun ke dalam lubang hitam Gargantua bersama TARS.
Bukannya mati hancur, Cooper justru masuk ke dalam Tesseract—sebuah ruang dimensi kelima yang di bangun oleh “Manusia Masa Depan” (si “Entitas” yang dimaksud di awal). Di dalam Tesseract, Cooper bisa melihat seluruh momen waktu di kamar Murph. Dia menyadari bahwa “hantu” yang selama ini berkomunikasi dengan Murph adalah dirinya sendiri dari masa depan.
Inilah inti dari Film Interstellar. Cinta bukan sekadar perasaan; cinta adalah dimensi yang bisa melampaui ruang dan waktu. Cooper menggunakan gravitasi untuk mengirimkan data kuantum yang dibutuhkan untuk memecahkan rumus gravitasi melalui jarum jam tangan yang dia berikan pada Murph puluhan tahun lalu.
Akhir Perjalanan dan Harapan Baru
Murph kecil yang cerdas akhirnya menyadari pesan tersebut saat dia sudah dewasa. Dia berhasil menyelamatkan umat manusia dengan membangun stasiun ruang angkasa raksasa. Sementara itu, Tesseract runtuh dan Cooper terlempar kembali ke orbit Saturnus, di mana dia di temukan oleh tim penyelamat manusia yang kini tinggal di stasiun luar angkasa.
Cooper bertemu kembali dengan Murph yang kini sudah sangat tua dan di ambang kematian. Ini adalah momen yang sangat mengharukan; sang ayah tetap muda sementara anaknya sudah menua. Murph meminta ayahnya pergi mencari Amelia yang saat ini berada di planet Edmunds, memulai koloni baru sendirian. Cooper pun kembali ke luar angkasa, bukan lagi sebagai pengungsi, tapi sebagai penjelajah sejati.